Senin, 06 April 2009

Kehidupan Bukan Sekedar Rutinitas

Kehidupan Bukanlah Sekedar Rutinitas
Berapa umur kita saat ini?
25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun...
Berapa lama kita telah melalui kehidupan kita? Berapa lama lagi sisa waktu kita untuk menjalani kehidupan? Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah tiba. Waktu untuk kita bersiap melakukan aktivitas, sebagai karyawan, sebagai pelajar, sebagai seorang profesional, dll.

Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat kita semakin tegang menjalani hidup. Terlambat sampai di kantor, itu hal biasa. Pekerjaan menumpuk, tugas dari boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah yang tidak memuaskan, dan banyak problematika pekerjaan harus kita hadapi di kantor.

Tak terasa, siang menjemput... "Waktunya istirahat..makan- makan.." Perut lapar, membuat manusia sulit berpikir. Otak serasa buntu. Pekerjaan menjadi semakin berat untuk diselesaikan. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Panas betul hari ini...

Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja...Perut kenyang, bisa jadi kita bukannya semangat bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan kok masih banyak yang belum selesai. Mulai lagi kita kerja, kerja dan terus bekerja sampai akhirnya terlihat di sebelah barat...

Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat berpisah. Gelap mulai menjemput. Lelah sekali hari ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai di rumah. Badan pegal sekali, dan badan rasanya lengket. Nikmat nya air hangat saat mandi nanti. Segar segar...

Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya sampai di rumah segera, dan ada yang berlarian mengejar bis kota bergegas ingin sampai di rumah. Dinamis sekali kehidupan ini.

Waktunya makan malam tiba. Ibu kita telah menyiapkan makanan kesukaan kita. "Ohh..ada sop ayam" . "Wah soto daging buatan ibu memang enak sekali". Anak memuji masakan Ibunya. Itu juga kan yang sering kita lakukan.

Selesai makan, bersantai sambil nonton TV. Tak terasa heningnya malam telah tiba. Lelah menjalankan aktivitas hari ini, membuat kita tidur dengan lelap. Terlelap sampai akhirnya pagi kembali menjemput dan
mulailah hari yang baru lagi.

Kehidupan..ya seperti itulah kehidupan di mata sebagian besar orang. Bangun, mandi, bekerja, makan, dan tidur adalah kehidupan.

Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas itu, mungkin kita tidak ada bedanya dengan hewan yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum, melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama. Hanya rutinitas... sampai akhirnya maut menjemput. Memang itu adalah kehidupan tetapi bukan kehidupan dalam arti yang luas.

Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan. Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka
dan duka dengan orang yang kita sayangi. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucapsyukur kepada Yang Maha Kuasa .. Kehidupan adalah ... dll.

Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani. Berapa tahun kita telah melalui kehidupan kita? Berapa tahun kita telah menjalani kehidupan rutinitas kita? Akankah sisa waktu kita sebelum ajal menjemput hanya kita korbankan untuk sebuah rutinitas belaka?

Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1 tahun lagi, mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi. Hanya Tuhanlah yang tahu...

Pandanglah di sekeliling kita...ada segelintir orang yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesama...... Serta Tuhan yang setia menanti ucapan syukur dari bibir kita.

Bersyukurlah padaNYA setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah.

Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.

Senin, 02 Juni 2008

Berapa lama Kita dikubur?
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.
Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.
Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya..."Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya."Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910""Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"Ayahnya tersenyum, "Lalu?""Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas . "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnyaAllahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya..."Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."

Kamis, 21 Februari 2008

Awal Mula Tragedi Pancot

semua berawal dari pembangunan masjid arrohman, tahukah saudara2ku dirantau bahwa proses pembangunan arrohman dilalui melalui proses yangpanjang? pertama kali anding mo beli tanah pak katmi beliau tanya kalodibangun masjid yang baru apa cungkup padusan bisa dipindah. takmirngubungi pemerintah setempat dan tokoh2 adat, kesimpulan dari tokoh2sesepuh yang tau penerawangan di wakili oleh mbah wir rt.12 dan paksukidi mengatakan cungkup itu dah kosong. di teruskan ke pak bayanberdua beliau oke kalo di pindah tapi tidak di bongkar. kemudiandibuatlah surat pernyataan bersama yang di tanda tangani tokoh adatdan masyarakat seingatku antara lain pak jali,pak pariyem (mewakiliberjonggo) alh.pak wik, mbah harti ( tokoh masyarakat) kedua bayan danjuga pak lurah dan disosialisasikan di pertemuan perangkat tgl.4pancot lor dan tgl.10 pancot kidul n setiap rt dikasih copyanya. suratpernyataan insya allah masih kami pegang. proses pemindahan diserahkankepada mbah wir dan pak sukidi.setelah digoleki dinone akhirnya mbah wir dgn ubo rampenya memindahsebagian tanah di cungkup ketempat yang sekarang ada cungkupdibawahnya. selang beberapa waktu ketika proses pembangunan masjidberjalan ada protes dari sebagian masyarakat yang di wakili oleh paklastri slamet n m'sular intinya cungkup harus dikembalikan ketempatsemula karena waktu itu ada beberapa kematian yang beruntun menurutmereka penyebabnya mbok rondo ngamuk. dilakukan pertemuan di rumahsungkono, waktu itu kami dan pak lurah serta bayan cuma dikumbah tidakdiberi kesempatan bicara, yo wis cungkup dikembalikan walau aq yakinsampe sekarangpun yang disalahne n dibilang kewanen "cah masjidtan".bagi kami ini catatan pertama kali pemerintahan ora kanggo di desakita n kami ndak di uwongne, sabar......kejadian kedua 3 tahun yang lalu ketika suronan, dari sebagian kaummuslim di pancot tidak mbayar iuran untuk wayangan. tentu alasanyabahwa itu perbuatan syirik, maaf bagi temen yang rutin punya pengajianataupun ya mau mbaca terjemahan Quran tentu tau itu bahwa dosa syiriksekecil apapun tidak di ampuni dan menjadi penyebab tidak diterimanyaamal dan dapat di pastikan masuk neraka. tidak bermaksud ngajarilogikanya ngapain kita sholat, menjalankan syariat ato berbuat baikkalo itu tidak dihitung sebagai amalan gara2 kita masih menyekutukanAllah, kadang2 disauri kabeh kan menurut niatnya, ya udah itu pilihanhidup mau takut pada Allah ato pekewuh mbek menungso. dampak darikejadian itu rumah2 kaum muslim pancot di lempari batu, yo wis kamilaporan mbek hansip, rt, bayan ndak bisa ngrampungi. beberapa harikemudian kami berhasil menangkap radi dan sumardi diserahkan ke hansipbuat pernyataan ( insya allah suratnya masih) tidak akan mengulanginyatanya terjadi lagi, masuk ke laporan polisi yo ora di proses lagi2kami yang disalahkan ngopo kok gur mbayar 20 ewu ae ra gelem, polisindak masuk ke perkaranya tapi malah begitu, kami maklum dieyelo yo oradong tentang aqidah, wis jelas ada surat pernyataan ini lho singmbalangi omah ngono ae yo gak iso mutusi.pasca kejadian itu di adakan pertemuan di kelurahan dihadiripemerintah kelurahan dan muspika, beliau2 menyarankan sing adat yoadat sing agomo yo agomo ra sah dicampur2 sampai debatebel kebebasanmemeluk agama, kami memberikan solusi mbayar tp untuk pembangunanfisik ato kepentingan lain di luar suran n modosio mereka ndak bisanerima, nek cuma pake bahasa pokok'e yo uwis pinginmu opo! ini catatankami yang kedua mereka tidak mengakui keberadaan hukum negara dan aparat.setelah itu masih ada pelemparan rumah lagi akhirnya diadakanpertemuan di pasar melibatkan pemerintah kabupaten, mui, kejaksaandll. yang pertama kali ngomong mui malah diurak, kejaksaan orang daribali memojokan kami, camat ngomongane nglantur memojokan kami (setelah kejadian camat dipertemukan dgn kami di kantor sekda kabupatenakhirnya minta maaf ke umat islam, tuntutan kami untuk nganti camattidak digubris akhirnya kami ancam waktu kedatangan presiden dikaranganyar kami akan demo, selang sehari sebelum kedatangan presidencamat diganti mendadak) puncaknya sular dikasih kesempatan maka diamenjatuhkan sanksi kami harus diusir dari pancot,aparat dan unsur2pemerintahan negara yang disitu yo meneng ae ki! cobe sampeyanbayangne negoro ono hukum we kelakon itu kejadian, begitu besarkekuasaanya tho? yo wis pertemuan selesai kami sabar....malamnya kami semakin siaga kami yakin akan ada lagi pelemparan rumah,bener jam 1 dinihari rumah pak budi dimun dilempari untungnya ada yangjaga, kami melawan walau kalah jumlah akhirnya dapat nangkap pak herimie ayam, sekali lagi polisi tidak dapat menyelesaikan masalah. ataskejadian itu temen2 muslim dari luar pancot yo ra negakne tho kalosodaranya di unyo2 terus baik dari tawangmangu, karanganyar, solobahkan satgas p3 jogja berdatangan. tersiar kabar dari daerah luarakan masuk pancot, kami sadar klo ini kejadian pasti tambah rame. aqdan wakiyo harus bolak balik ke blumbang 2 kali untuk meyakinkanmereka2 jangan masuk pancot sampe mengiba-iba ke mereka untuk mesaknekami yang dipancot. atas peristiwa itu sampe sekarang beritanya adalahkami mengundang dan minta bantuan keluar untuk ngrusak desane dewepadahal sing ko njobo ki cuma giyanto sieng yang lahir dan besar dipancot tapi sekarang berdomisili di bogor. nek sampeyan2 yang dirantautrus diangeb dudu wong pancot maneh yo trimo? kami sabar.....akhirnya temen2 dari luar mengarahkan aksinya ke polsek intinya polisiharus menangkap orang2 yang merusak rumah, ashar bantuan dari polresdatang nangkap yang berbuat n sular serta slamet ngomin serta pak budidimun dibawa juga sebagai saksi korban. setelah dikuliahi aktivismulsim dari solo sular diminta menandatangani surat pernyataanperdamaian yang sebagai pihak korbanya pak budi dimun ( suratnya jugamasih ada tu..dan kemarin sempat diminta dibacalagi oleh sularkemudian diminta bertobat, wong atase ketua takmir mushola kok dikonsholat subuh bareng ndak mau yo dipekso)akhirnya pasca itu tidakterjadi apa2 lagi sampai kejadian kemarin.dari catatan2 di atas kesimpulane kan bukan perkara hukum po benersalah tapi seneng karo ra seneng terus piye penyeleseane? polisi danaparat berkali-kali gak iso ngrampungi, mereka intinya yang pentingdamai ra perduli kamu merdeka po tertekan, klo kami yo melok2 pejuang45 ae kami cinta damai tetapi kami lebih cinta kemerdekaan githu lho...mungkin nek dijak rembukan isih iso no problem tapi nek pake bahasapoko'e trus piye. saya sadar temen2 yang dirantau kondisinya berbedaterkait permasalahan ini, kalo aq tidak dipancot tentu yo bedhopandangane. soal ngundang bantuan dari luar itu bentukketidakpercayaan lagi kepada aparat, sampeyan ngerti dewe piyepandangane aparat terhadap "umat muslim" secara umum dan itu jugaterjadi di tempat kita dan aq sendiri udah membuktikanya, skenarionemereka tetap diluar pancot tp wis getem2 trus piye. sabar tidak sabaritu bagian dari strategi, nek ngenteni polisi trus dibongkar kamiakhul yaqin itu tidak akan kejadian, kami tidak mau lagi mengulangkesalahan, nek tidak dicegati kami ndak nyerang kok, skenario awalcuma buka tembok setelah itu selesai.pasca kejadian ini sebenarnya ada kekwatiran bagi kami terhadap desakita, kalo saudara2 adat tidak mendo malah ndadi tentunya menjadipersoalan besar. sampeyan2 juga ngerti seberapa besar kekuatan umatislam ini nek ada kejadian lagi tentu bakale akan lebih besar kekuatanyang akan "masuk" desa kita, dari beberapa pembicaraan dengan aktivis2tersebut desa kita udah dijadiin barometer tentang hubungan islam danadat. terus terang dari kami tidak punya kekuatan lagi untuk menahanmereka, ini bukan ancaman tapi sampeyan2 bisa melogika itu klo sampekejadian. tolong bantuan temen2...... . soal nyalah2ne kami it's oke,stigma atas seluruh persoalan yang ada di pancot sumbernya dari "cahmasjidtan" ditompo kanti legowo lan sabar opo trus ngawur membabibuta? ketok'e ora. soal judi, ngetengi uwong, mendem, gelutan, malingnek ora jadi masalah it's oke, kami meneng walau secara dakwah kamikecipratan dosane mergone ora ngandani dan tidak menahan perbuatanitu. sampeyan menyarankan kami kudu piye we kami manut sing pentingitu tadi ojo perkoro aqidah.....